Kamis, 11 Juni 2015

Pertahankan? Dipertahankan?

 

                Kata kata yang memiliki kata dasar yang sama “tahan”, tapi arti mereka berdeda ketika di beri imbuhan.  Pertahankan atau dipertahankan? Entahlah.

 

Namun bila dua orang yang awalnya mengikat janji dan memutuskan berjalan bersama sama ditengah jalan salah satu dari mereka berubah pikiran dan memutuskan untuk berjalan sendiri, apa lagi yang harus dipertahankan?? 

 

Malam pun masih terlalu terang. bahkan bisa menjadi terik. Dia terluka, hatinya terluka. Terbentur dinding.

Matahari masih saja sedih, bersandar di balik awan. Dia tetap terluka, lukanya dalam sedalam samudra.

Samudra yang menganga meninggalkan lubang yang dalam.

Malam sunyi dia selalu memimpikan sang pujaan hati, namun entah bagaimana sang pujaan hati?? Dia berusaha memberikan yang terbaik bagi sang pujaan hati. Namun mengapa dia tetap tidak bisa sentuh hati sang pujaan hati??

 

Tak bisakan sedikit dan sebentar saja sang pujaan hati menoleh dan melihat dia? Tak sadarkah sang pujaan hati sedang dicintai dia sebegitunya?

Mereka tak semestinya berpijak diantara lagu yang tak bernada. Mungkin mereka tidak siap. Mereka pernah mencoba berjuang, berjuang terlepas dari kehampaan.  Kehampaan hati,  mereka adalah sisa sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan. Tertiup tak terarah oleh angina malam. Dan mereka berharap akan dipertemukan di pertemuan yang abadi.

 

Sang dia pun mulai berfikir. Ternyata sang pujaan hati tak pantas untuk dipertahankan, taka ada lagi yang bisa dipertahankan. Musnah, hancur lebur harapan yang terlanjur dia percaya.

Dan sang dia pun masih saja tetap terluka, terluka hatinya, hatinya yang terlanjur diberikan kepada sang pujaan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar