Sabtu, 20 Juni 2015

Munafik?


  Kalo lo belom bisa mengatasi masalah hidup lo, kenapa lo malah mengatasi masalah hidup orang lain??
 

Kadang gue heran deh sama manusia manusia jenis itu, mereka ga pernah sadar akan kekurangannya. Mereka merasa selalu sempurna. Mereka bisa menasehati orang lain dengan kata kata yang bijak, tapi mereka aja ga bisa mengatasi masalah yang sama. Pantes kah mereka menasehati mereka yang lain kalo mereka sendiri tidak mampu mengatasi masalah yang sama di kehidupan mereka?


Kocak si kata gue, itu ga konsisten. Hidup mereka ga konsisten. Menurut gue si mereka itu munafik. Mereka dengan semangat 45, mati matian menasehati orang dengan kata kata bijak sedangkan dengan kehidupan mereka sendiri?? Bagaimana?
Patut di pertanyakan ga si? Mereka aja ga bisa mengatasi masalah yang sama di kehidupan mereka, tapi mereka menasehati kita.  apa kita, kami, mereka, apa gue harus percaya dan menyetujui nasehat mereka?
Gue rasa si ga pas ya. Seharusnya mereka mampu dulu untuk mengatasi masalah yang sama, nah baru bisa menasehati orang lain. Kalo mereka nasehatiin orang lain tapi mereka sendiri aja belom bener, lah gimana itu?? Makin tersesat dong?? Sama aja kaya orang tuli menuntun orang buta.


Apa ga malah keliatan munafik banget??
Ya cukup angguk angguk sama geleng geleng aja deh kalo ketemu sama manusia yang jenisnya kaya gitu.
Kaya nya si mereka ga akan pernah sadar tentang itu, jadi apa boleh buat, kita aja yang harus nanggepin angguk angguk sama geleng geleng aja. So selama kita ga ngurusin hidup mereka, jadi mereka juga seharusnya ga berhak dong ngurusin hidup kita, kan kita udah punya kehidupan masing masing, kenapa masih harus ngeribetin diri buat ngurusin hidup orang lain.


Lain ceritanya kalo orang itu emang suka cari masalah atau cari cari perhatian dengan cara ngurusin masalah orang lain, masalah yang sama pula dengan masalah mereka dan ternyata mereka ga bisa atasi masalah itu. 


Catatan pendek untuk bocah perempuan yang baru 17 tahun, camkan ya adek ku yang sedang.. emm?... katanya si belajar dewasa. buka mata lo lebih lebar, buka telinga lo lebih lebar lagi, liat dan dengerin semua yang ada di sekitar lo. Dan itu buat pelajaran. Jangan asal nasehati orang yang lebih tua dari lo tapi ternyata lo aja masih ada di jalan yang sama dan malah lebih mengenaskan. Belajar bersyukur dan belajar jangan mencampuri urusan orang lain. Urusan orang lain itu bukan es campur yang bisa dicampurin seenak jidat 

Kamis, 11 Juni 2015

PAYUNG TEDUH




Terang masih saja milik malam, bahkan malam yang terlalu terang, sanggup menjadi terik.
Dan matahari masih sedih, bersandar dibelakang, mungkin ia belum lelah menanti kedatangan cinta.
Atau ia sudah bosan menanti kedatangan apapun? atau teriknya  sudah tidak membangunkan kita lagi? bukankah kita sudah berjanji semua sudah selesai, ketika ada kita?

Dan matahari masih sedih, bersandar dibelakang, Mungkin ia belum lelah menanti kedatangan cinta. Atau ia sudah bosan menanti apapun? Atau teriknya sudah tidak membangunkan kita lagi? Bukankah kita sudah berjanji semua sudah selesai ketika ada kita?
Tak terasa gelap pun jatuh, diujung malam menuju pagi yang dingin. Hanya ada sedikit bintang  malam ini mugkin karna kau sedang cantik cantiknya??

Lalu mataku merasa malu, semakin dalam ia melukain ini. Kadang juga ia takut, tak kala harus berpapasan ditengah pelariannya. Dimalam hari menuju pagi, sedikit cemas banyak rindunya.
Harum mewangi taman menusuk hingga ke dalam sukma, dan menjadi tumpuan, rindu, cinta bersama. Di sore itu menuju senja

Bersama, hatinya berduka. Menusuk pilu mengaya luka itu di antara luka senyum dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap di tutupi awan, bersama sedangku punya cerita yang kian merambah di dinding penantian ada yang mati saat itu dalam terang bulan yang tak terobati.
Baru saja ku beranjak beberapa saat sebelum itu, ada yang mati menunggu sore, menuju senja bersama.
Harum mewangi taman menusuk hingga ke dalam sukma. Dan menjadi tumpuan, rindu, cinta bersama. Disore itu menuju senja

Ada yang tak sempat tergambarkan, oleh kata ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah kau tau jawabnya? Malam jadi saksinya kita berdua di antara kata yang tak terucap, berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban.
Malam jadi saksinya kita berdua diantara kata yang tak terucap, berharap
Mungkinkah kita ada kesempatan, ucapkan janji, takkan berpisah selamanya?? Waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban??

Tak ada sore dan udara menjadi segar, taka da gelap lalu mata enggan menatap. Tak ada bintang mati butiran pasir terbang kelangit, taka da fajar, hanya remang malam semua tlah hilang terserap matahari.
Harum mawar membunuh bulan rahasia tetap diam tak terucap, untuk itu semua aku mencarimu. Berikan tanganmu jabat jemariku, yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu berikan suaramu balas kemua bisikanku memanggil namamu!

Atau kau ingin aku, berteriak sekencang kencangnya, agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku?
Ini rahasiaku, tak ada gelap sejak jauh darimu, tak ada terang yang seterang senyummu, tak ada lagi bintang di mataku ketika bayanganmu menjauh membentang, kau buat  rindu diharapku melayang layang, kamu pernah menjadi senja menenggelamkan semua, kini yang tersisa hanya aroma tawar. Yang tersisa hanya harum aroma tawar, lalu aku mencari  suaramu, ku obrak abrik namamu,aku mencari wujudmu, aku mencarimu, terus mencarimu, dan terus mencarimu. 

Aku ingin berjalan bersamamu dalam ujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu. Aku ingin berdua denganmu diantara daun gugur, aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya  melihat keresahanmu.
Aku menunggu dengan sabar, di atas sini, melayang layang. Tergoyang angin menantikan tubuh itu. Aku ingin berdua denganmu diantara daun gugur, aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu.





Pertahankan? Dipertahankan?

 

                Kata kata yang memiliki kata dasar yang sama “tahan”, tapi arti mereka berdeda ketika di beri imbuhan.  Pertahankan atau dipertahankan? Entahlah.

 

Namun bila dua orang yang awalnya mengikat janji dan memutuskan berjalan bersama sama ditengah jalan salah satu dari mereka berubah pikiran dan memutuskan untuk berjalan sendiri, apa lagi yang harus dipertahankan?? 

 

Malam pun masih terlalu terang. bahkan bisa menjadi terik. Dia terluka, hatinya terluka. Terbentur dinding.

Matahari masih saja sedih, bersandar di balik awan. Dia tetap terluka, lukanya dalam sedalam samudra.

Samudra yang menganga meninggalkan lubang yang dalam.

Malam sunyi dia selalu memimpikan sang pujaan hati, namun entah bagaimana sang pujaan hati?? Dia berusaha memberikan yang terbaik bagi sang pujaan hati. Namun mengapa dia tetap tidak bisa sentuh hati sang pujaan hati??

 

Tak bisakan sedikit dan sebentar saja sang pujaan hati menoleh dan melihat dia? Tak sadarkah sang pujaan hati sedang dicintai dia sebegitunya?

Mereka tak semestinya berpijak diantara lagu yang tak bernada. Mungkin mereka tidak siap. Mereka pernah mencoba berjuang, berjuang terlepas dari kehampaan.  Kehampaan hati,  mereka adalah sisa sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan. Tertiup tak terarah oleh angina malam. Dan mereka berharap akan dipertemukan di pertemuan yang abadi.

 

Sang dia pun mulai berfikir. Ternyata sang pujaan hati tak pantas untuk dipertahankan, taka ada lagi yang bisa dipertahankan. Musnah, hancur lebur harapan yang terlanjur dia percaya.

Dan sang dia pun masih saja tetap terluka, terluka hatinya, hatinya yang terlanjur diberikan kepada sang pujaan hati.