Terang masih saja milik malam,
bahkan malam yang terlalu terang, sanggup menjadi terik.
Dan matahari masih sedih,
bersandar dibelakang, mungkin ia belum lelah menanti kedatangan cinta.
Atau ia sudah bosan menanti
kedatangan apapun? atau teriknya sudah
tidak membangunkan kita lagi? bukankah kita sudah berjanji semua sudah selesai,
ketika ada kita?
Dan matahari masih sedih,
bersandar dibelakang, Mungkin ia belum lelah menanti kedatangan cinta. Atau ia
sudah bosan menanti apapun? Atau teriknya sudah tidak membangunkan kita lagi?
Bukankah kita sudah berjanji semua sudah selesai ketika ada kita?
Tak terasa gelap pun jatuh,
diujung malam menuju pagi yang dingin. Hanya ada sedikit bintang malam ini mugkin karna kau sedang cantik
cantiknya??
Lalu mataku merasa malu, semakin
dalam ia melukain ini. Kadang juga ia takut, tak kala harus berpapasan ditengah
pelariannya. Dimalam hari menuju pagi, sedikit cemas banyak rindunya.
Harum mewangi taman menusuk hingga
ke dalam sukma, dan menjadi tumpuan, rindu, cinta bersama. Di sore itu menuju
senja…
Bersama, hatinya berduka. Menusuk
pilu mengaya luka itu di antara luka senyum dan menapaki jejak kenangan di sore
yang gelap di tutupi awan, bersama sedangku punya cerita yang kian merambah di
dinding penantian ada yang mati saat itu dalam terang bulan yang tak terobati.
Baru saja ku beranjak beberapa
saat sebelum itu, ada yang mati menunggu sore, menuju senja bersama.
Harum mewangi taman menusuk hingga
ke dalam sukma. Dan menjadi tumpuan, rindu, cinta bersama. Disore itu menuju
senja…
Ada yang tak sempat tergambarkan,
oleh kata ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah kau tau
jawabnya? Malam jadi saksinya kita berdua di antara kata yang tak terucap,
berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban.
Malam jadi saksinya kita berdua
diantara kata yang tak terucap, berharap
Mungkinkah kita ada kesempatan,
ucapkan janji, takkan berpisah selamanya?? Waktu membawa keberanian untuk
datang membawa jawaban??
Tak ada sore dan udara menjadi segar,
taka da gelap lalu mata enggan menatap. Tak ada bintang mati butiran pasir
terbang kelangit, taka da fajar, hanya remang malam semua tlah hilang terserap
matahari.
Harum mawar membunuh bulan rahasia
tetap diam tak terucap, untuk itu semua aku mencarimu. Berikan tanganmu jabat
jemariku, yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu berikan suaramu balas kemua
bisikanku memanggil namamu!
Atau kau ingin aku, berteriak
sekencang kencangnya, agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku?
Ini rahasiaku, tak ada gelap sejak
jauh darimu, tak ada terang yang seterang senyummu, tak ada lagi bintang di
mataku ketika bayanganmu menjauh membentang, kau buat rindu diharapku melayang layang, kamu pernah
menjadi senja menenggelamkan semua, kini yang tersisa hanya aroma tawar. Yang
tersisa hanya harum aroma tawar, lalu aku mencari suaramu, ku obrak abrik namamu,aku mencari
wujudmu, aku mencarimu, terus mencarimu, dan terus mencarimu.
Aku ingin berjalan bersamamu dalam
ujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu. Aku ingin berdua
denganmu diantara daun gugur, aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu.
Aku menunggu dengan sabar, di atas
sini, melayang layang. Tergoyang angin menantikan tubuh itu. Aku ingin berdua
denganmu diantara daun gugur, aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat
keresahanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar