Kamis, 11 Juni 2015

PAYUNG TEDUH




Terang masih saja milik malam, bahkan malam yang terlalu terang, sanggup menjadi terik.
Dan matahari masih sedih, bersandar dibelakang, mungkin ia belum lelah menanti kedatangan cinta.
Atau ia sudah bosan menanti kedatangan apapun? atau teriknya  sudah tidak membangunkan kita lagi? bukankah kita sudah berjanji semua sudah selesai, ketika ada kita?

Dan matahari masih sedih, bersandar dibelakang, Mungkin ia belum lelah menanti kedatangan cinta. Atau ia sudah bosan menanti apapun? Atau teriknya sudah tidak membangunkan kita lagi? Bukankah kita sudah berjanji semua sudah selesai ketika ada kita?
Tak terasa gelap pun jatuh, diujung malam menuju pagi yang dingin. Hanya ada sedikit bintang  malam ini mugkin karna kau sedang cantik cantiknya??

Lalu mataku merasa malu, semakin dalam ia melukain ini. Kadang juga ia takut, tak kala harus berpapasan ditengah pelariannya. Dimalam hari menuju pagi, sedikit cemas banyak rindunya.
Harum mewangi taman menusuk hingga ke dalam sukma, dan menjadi tumpuan, rindu, cinta bersama. Di sore itu menuju senja

Bersama, hatinya berduka. Menusuk pilu mengaya luka itu di antara luka senyum dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap di tutupi awan, bersama sedangku punya cerita yang kian merambah di dinding penantian ada yang mati saat itu dalam terang bulan yang tak terobati.
Baru saja ku beranjak beberapa saat sebelum itu, ada yang mati menunggu sore, menuju senja bersama.
Harum mewangi taman menusuk hingga ke dalam sukma. Dan menjadi tumpuan, rindu, cinta bersama. Disore itu menuju senja

Ada yang tak sempat tergambarkan, oleh kata ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah kau tau jawabnya? Malam jadi saksinya kita berdua di antara kata yang tak terucap, berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban.
Malam jadi saksinya kita berdua diantara kata yang tak terucap, berharap
Mungkinkah kita ada kesempatan, ucapkan janji, takkan berpisah selamanya?? Waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban??

Tak ada sore dan udara menjadi segar, taka da gelap lalu mata enggan menatap. Tak ada bintang mati butiran pasir terbang kelangit, taka da fajar, hanya remang malam semua tlah hilang terserap matahari.
Harum mawar membunuh bulan rahasia tetap diam tak terucap, untuk itu semua aku mencarimu. Berikan tanganmu jabat jemariku, yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu berikan suaramu balas kemua bisikanku memanggil namamu!

Atau kau ingin aku, berteriak sekencang kencangnya, agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku?
Ini rahasiaku, tak ada gelap sejak jauh darimu, tak ada terang yang seterang senyummu, tak ada lagi bintang di mataku ketika bayanganmu menjauh membentang, kau buat  rindu diharapku melayang layang, kamu pernah menjadi senja menenggelamkan semua, kini yang tersisa hanya aroma tawar. Yang tersisa hanya harum aroma tawar, lalu aku mencari  suaramu, ku obrak abrik namamu,aku mencari wujudmu, aku mencarimu, terus mencarimu, dan terus mencarimu. 

Aku ingin berjalan bersamamu dalam ujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu. Aku ingin berdua denganmu diantara daun gugur, aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya  melihat keresahanmu.
Aku menunggu dengan sabar, di atas sini, melayang layang. Tergoyang angin menantikan tubuh itu. Aku ingin berdua denganmu diantara daun gugur, aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar