ini hampa, disetiap senja datang, setiap hujan berhenti berderai itu selalu mengingatkanku bahwa aku merindukanmu,
waktu teras sangat lama berlalu bila rindu ini mulia menyerang dan menyiksa. hanya rindu-lah satu satu nya alasan mengapa waktu ku lama berputar. jam di dinding terlihat tertawa terbahak bahak melihat aku sedang dicekik oleh rindu.
aku benci rindu, namun aku butuh rindu.
rindu menghadirkan kehampaan karna kita tidak bisa berbuat banyak. kita tidak bisa melawan jarak atau menghakimi waktu yang memisahkan kita.
apa? dan hanya hampa yang aku rasakan.
Aku mohon, jangan biarkan itu terjadi lagi. Jangan biarkan aku dicekik oleh rindu, jangan biarkan aku ditertawakan oleh waktu.
Dan disaat senja tak selalu tampak jingga aku masih tetap merindukanmu.
Kenapa harus kesana? Bisakah kau menetap? Bisakah kau tinggal disini?
Bantu aku mengusir rindu ini. Bisakah tuan???
Sebanyak pasir dipantai doa yang kupanjatkan saat kau berada diujung pulau Sana. Disini alamlah yang mampu kuajak bicara. Disini ombak selalu terlihat tenang, aku harap ombak disana juga. Disini angin terasa sejuk membelai wajah, kuharap angin disana juga. Disini langit terlihat cerah, kuharap langit disana juga. Dan semoga alam menyampaikan rasa rinduku padamu. Hanya dengan berdoa aku bisa merasakan tenang dan sejenak melupakan rindu yang semakin membabi buta.
Apa yang bisa kulakukan lagi? Tidak banyak. Hanya berbicara dan mengadu pada alam bahwa aku merindukanmu.
Ya, aku merindukanmu.
Saat kau diujung pulau sana, Kusingkirkan segala pikiran buruk tentangmu, kuusir segala rasa cemburu yang ada. Kuusir segala kecemasan yang hadir agar mereka pergi. Aku tak ingin mengotori otakku dengan pikiranpikiran usil seperti itu. Namun ternyata ini menyiksa. Sungguh, ini menyiksa!! Aku harus
Mengabaikan segala emosi yang ada. Mengabaikan segala rasa yang ada.
Mengabaikan segala gejolak dihati
Mengabaikan rasa rinduku
Mengabaikan pemberontakan hatiku
Mengabaikan apapun yang mengingatkanku tentang rinduku.
Dan disini aku merasa hampa.
Ya ini hampa. Hanya hampa :(
Aku mohon, jangan biarkan itu terjadi lagi. Jangan biarkan aku dicekik oleh rindu, jangan biarkan aku ditertawakan oleh waktu.
Dan disaat senja tak selalu tampak jingga aku masih tetap merindukanmu.
Kenapa harus kesana? Bisakah kau menetap? Bisakah kau tinggal disini?
Bantu aku mengusir rindu ini. Bisakah tuan???
Sebanyak pasir dipantai doa yang kupanjatkan saat kau berada diujung pulau Sana. Disini alamlah yang mampu kuajak bicara. Disini ombak selalu terlihat tenang, aku harap ombak disana juga. Disini angin terasa sejuk membelai wajah, kuharap angin disana juga. Disini langit terlihat cerah, kuharap langit disana juga. Dan semoga alam menyampaikan rasa rinduku padamu. Hanya dengan berdoa aku bisa merasakan tenang dan sejenak melupakan rindu yang semakin membabi buta.
Apa yang bisa kulakukan lagi? Tidak banyak. Hanya berbicara dan mengadu pada alam bahwa aku merindukanmu.
Ya, aku merindukanmu.
Saat kau diujung pulau sana, Kusingkirkan segala pikiran buruk tentangmu, kuusir segala rasa cemburu yang ada. Kuusir segala kecemasan yang hadir agar mereka pergi. Aku tak ingin mengotori otakku dengan pikiranpikiran usil seperti itu. Namun ternyata ini menyiksa. Sungguh, ini menyiksa!! Aku harus
Mengabaikan segala emosi yang ada. Mengabaikan segala rasa yang ada.
Mengabaikan segala gejolak dihati
Mengabaikan rasa rinduku
Mengabaikan pemberontakan hatiku
Mengabaikan apapun yang mengingatkanku tentang rinduku.
Dan disini aku merasa hampa.
Ya ini hampa. Hanya hampa :(
Tertanda
Pemilik ruang hampa,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar